Saturday, July 7, 2007

Wimbledon dan Tradisinya

Awalnya adalah sebuah kejadian, selanjutnya tradisi, lalu menjadi nilai, dan kemudian terkemas menjadi prosesi mistis.

Setidaknya itu yang saya rasakan setiap kali turnamen tenis Wimbledon digelar di London ini.

Saya seringkali tertawa, sekaligus kagum, dengan kemampuan orang Inggris ini untuk membuat satu peristiwa biasa menjadi prosesi ritual yang membekap orang atau mereka yang terlibat dengan aura mistis ini.

Upacara pemberian piala di Wimbledon ini ditiru oleh turnamen tenis lain di dunia. Minus tentu saja kehadiran perwakilan kerajaan Inggris yang menyerahkan piala kepada pemenang maupun bungkukan badan si juara terhadap wakil kerajaan itu.

Saya senang mengikuti final piala Wimbledon karena seperti prosesi menuju ektasi, sejak pemain masuk ke lapangan hingga pemberian pialanya diatur sedemikian rupa hingga emosi terbangun perlahan menuju puncak.

Seperti anda ketahui ditengah dilangsungkannya turnamen tenis paling terkenal di dunia ini, London terancam dua bom yang gagal meledak di pusat kota.

Pihak keamanan pun meningkatkan pengawasan di semua tempat yang menjadi potensi ancaman termasuk Wimbledon. Blok-blok pembatas beton pun dipasang dibeberapa tempat masuk ke kompleks Wimbledon di London Barat itu.

Tetapi, sekali lagi dasar orang Inggris. Blok pembatas beton berwarna kelabu itu tidak dibiarkan begitu saja, tetapi dicat dengan warna hijau pupus warna tradisional kompleks Wimbledon.

Para petenis yang berlaga sampai geleng-geleng kepala, "Kok ya sempat-sempatnya memikirkan yang seperti itu."

Kesetiaan terhadap tradisi yang beralih menjadi nilai dan menebar aroma mistis ini memang sangat disukai para petenis yang berlaga. Mereka bertanding di Wimbledon karena menghadirkan sesuatu yang berbeda dibanding turnamen grand slam lain, apalagi kalau dibandingkan hanya sekadar turnamen biasa.

Tetapi di sinilah cerminan permasalahan dalam penyelenggaraan Wimbledon. Ketelitian dan kesetiaan terhadap tradisi seringkali menyingkirkan kepraktisan dan dalam beberapa akal sehat.

Bagi anda yang pernah berkunjung ke Inggris, pasti mengerti bahwa hujan adalah keseharian di Inggris ini. Tidak peduli dengan musim.

Sudah berpuluh-puluh tahun hujan ini mengganggu jadwal pertandingan tetapi baru tahun lalu panitia berencana untuk menjadikan lapangan utama sebagai lapangan tertutup. Hanya lapangan utama bukan yang lain. Tahun depan rencananya proyek itu akan selesai. Tetapi tahun ini mereka terlanjur rugi setidaknya satu juta poundsterling karena gangguan hujan.

Lamanya pemikiran itu muncul karena, salah satunya, panitia menganggap gangguan hujan sebagai tradisi. Merupakan ujian psikologis bagi para pemain untuk selalu siap bermain kapan mereka diharuskan. Bermain di Wimbledon harus siap terganggu hujan. Itu salah satu seninya yang membedakan dengan turnamen lain. Alasan yang bisa kita katakan "ada-ada saja." Tetapi demikian adanya.

Pengaturan jadwal juga sulit dipahami. Panitia ngotot bahwa kalau ada pertandingan yang tertunda, maka ia tidak secara otomatis dimainkan sebagai pertandingan pertama keesokan harinya. Tetapi menunggu permainan yang dijadwalkan hari itu selesai dulu baru waktu yang tersisa dialokasikan untuk pertandingan yang tertunda. Anda bisa bayangkan kalau bukan hanya satu dua pertandingan tertunda. Maka mundurnya akan lebih lama lagi.

Ini juga dianggap sebagai sebuah peraturan yang sudah mentradisi. Padahal apa susahnya untuk mengganti peraturan. Toh pada awalnya peraturan itu hanyalah sebuah kesepakatan yang dulunya juga dianggap sebagai praktis tetapi sekarang perlu diperbaiki.

Tahukah juga anda bahwa pembelian tiket via online baru mulai diujicobakan tahun ini? Jauh tertinggal dari turnamen-turnamen lain. Saya tidak tahu mengapa baru sekarang diujicobakan.

Saya bercuriga saja, jangan-jangan antri tiket berjam-jam, bahkan biasa kalau sampai ada yang berkemah, juga dianggap sebagai tradisi yang sayang kalau hilang. Mungkin ini juga dianggap sebagai ritual karena banyaknya orang Inggris ini yang sengaja mengambil cuti tahunannya untuk antri dan menonton Wimbledon.

Saya sih cukup senang kalau menonton Wimbledon dari siaran TV BBC yang komplit menyiarkan setiap pertandingan. Atau kalaupun datang ke Wimbledon cukup puas menonton pertandingan di luar lapangan utama ataupun lapangan satu.

Yang lebih sering lagi cuma duduk di gundukan tanah yang membukit bersama ribuan penonton tanpa tiket, menonton dari layar lebar. Yang celakanya juga menjadi bagian dari tradisi menonton Wimbledon.



Dikutip dari detiksport.com

Thursday, May 3, 2007

Warkop DKI, Godfathers of Humor

Warkop atau sebelumnya Warkop Prambors, juga kemudian dikenal sebagai Trio DKI adalah grup lawak yang dibentuk oleh Nanu (nama asli Nanu Mulyono), Rudy Badil, Dono (Wahjoe Sardono), Kasino Hadiwibowo dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro), lima mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Mereka pertama kali meraih kesuksesan lewat acara Obrolan Santai di Warung Kopi yang merupakan garapan dari Temmy Lesanpura, Kepala Bagian Programming Radio Prambors. Acara lawakan setiap Jumat malam antara pukul 20.30 hingga pukul 21.15, disiarkan oleh radio Prambors yang bermarkas di kawasan Mendut, Prambanan, Borobudur, alias Menteng Pinggir.

Dalam acara itu, Rudi Badil dalam obrolan sering berperan sebagai Mr. James dan Bang Cholil. Indro yang berasal dari Purbalingga berperan saebagai Mastowi (Tegal), Ubai (Ansori). Kasino yang asli Gombong perannya bermacam-macam: Mas Bei, Acing / Acong (Cina) dan Buyung (Padang). Nanu yang asli Madiun sering berperan sebagai Tulo (Batak). Dono sendiri hanya berperan sebagai Mas Slamet.

Ide awal obrolan Warkop Prambors berawal dari dedengkot radio Prambors, Temmy Lesanpura. Radio Prambors meminta Hariman Siregar, dedengkot mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors. Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini. Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu, dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro.

Rudy yang semula ikut Warkop saat masih siaran radio, tak berani ikut Warkop dalam melakukan lawakan panggung, karena demam panggung (stage fright). Untuk hal itu, Rudy mengaku "Pernah sekali saya coba di panggung TIM, saya menyadari bahwa saya tidak mampu. Setelah itu ya nggak usah saja,"

Dono pun awalnya saat manggung beberapa menit pertama mojok dulu, karena masih malu dan takut. Setelah beberapa menit, barulah Dono mulai ikut berpartisipasi dan mulai kerasan, hingga akhirnya terus menggila hingga akhir durasi lawakan. Indro adalah anggota termuda, saat anggota Warkop yang lain sudah menduduki bangku kuliah, Indro masih pelajar SMA.

Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan (kalau sekarang prom nite) SMP IX yang diadakan di Hotel Indonesia. Semua personil gemetar, alias demam panggung, dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, tidak terlalu sukses. Namun peristiwa di tahun 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor yang berupa uang transport sebesar Rp 20.000. Uang itu dirasakan para personil Warkop besar sekali, namun akhirnya habis untuk menraktir makan teman-teman mereka.

Berikutnya mereka manggung di Tropicana. Sebelum naik panggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, tapi ternyata hasilnya kembali lumayan.

Baru pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), grup Warkop Prambors baru benar-benar 'lahir' sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia. Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tetapi juga membantu memperkenalkan grup PSP (Pancaran Sinar Petromaks), yang bertetangga dengan Warkop. Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar Rp 1.000.000 per pertunjukan atau dibagi empat orang, setiap personil mendapat no pek go ceng (Rp 250.000).

Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono-Kasino-Indro atau DKI (yang merupakan pelesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota). Ini karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri. Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, maka mereka harus mengirim royalti kepada Radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors. Maka itu kemudian mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, untuk menghentikan praktek 'upeti' itu.

Dari semua personil Warkop, mungkin Dono lah yang paling intelek, walau ini agak bertolak belakang dari profil wajahnya yang 'ndeso' itu. Dono bahkan setelah lulus kuliah menjadi asisten dosen di FISIP UI teptanya jurussan Sosiologi. Dono juga kerap menjadi pembawa acara pada acara kampus atau acara perkawinan rekan kampusnya. Kasino juga lulus dari FISIP.

Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat. Dari filmlah para personil Warkop mulai meraup kekayaan berlimpah. Dengan honor Rp 15.000.000 per satu film untuk satu grup, maka mereka pun kebanjiran duit, karena hampir tiap tahun mereka membintangi satu film di dekade 1980-an. Malah beberapa tahun ada dua film Warkop sekaligus.

Kelebihan Warkop dibandingkan grup lawak lain, adalah tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya. Karena sebagian besar adalah mahasiswa (yang kemudian beberapa menjadi sarjana), maka mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dan pengembangan diri kelompok mereka.

Ini dilihat dari keseriusan mereka membentuk staf yang tugasnya membantu mereka dalam mencari bahan lawakan. Salah satu staf Warkop ini kemudian menjadi pentolan sebuah grup lawak, yaitu Miing Bagito. Saat itu Miing mengaku bahwa ia ingin sekali menjadi pelawak, dan kebetulan ia diterima menjadi staf Warkop. Kerjanya selain mengumpulkan bahan lawakan, melakukan survei lokasi (di kota atau daerah sekitar tempat Warkop akan manggung), kalau perlu melakukan pekerjaan pembantu sekalipun seperti menyetrika kostum para personil Warkop. Ini dilakukan Miing dengan serius, karena ia sadar disinilah pembelajaran profesionalitas sebuah kelompok lawak. Miing sempat ikut dalam kaset warkop dan film warkop, sebelum akhirnya membentuk kelompok lawak sendiri bersama Didin (saudaranya) dan Unang yang diberi nama Bagito (alias Bagi Roto).

Dalam era televisi swasta dan menurunnya jumlah produksi film, DKI pun lantas memulai serial televisi sendiri. Serial ini tetap dipertahankan selama beberapa lama walaupun Kasino tutup usia di tahun 1997. Setelah Dono juga meninggal di tahun 2001, Indro menjadi satu-satunya personel Warkop.

Akhirnya, Bike 2 School Tercapai!!

Setelah menunggu lama untuk momen yang tepat, misi bike 2 school akhirnya tercapai juga.

Menurut saya, ini termasuk pencapaian saya yang baik mengingat jarak antara rumah dan sekolah saya cukup jauh dan melalui medan yang penuh tanjakan.

Yah, kalo dipikir-pikir bike 2 school ini memang program yang bagus banget untuk saya yang memiliki aktivitas harian yang simpel. Yaitu, jam 7-14 di sekolah aja. Jadi, ga usah bayar angkutan umum deyh.

Lalu, keuntungan lainnya yang saya dapat dari bike 2 school adalah, OLAHRAGA!!!
sebetulnya, kenapa sih orang-orang mengeluarakn uang yang banyak untuk berolahraga?kenapa sih orang-orang mau mengeluarakan uang untuk menyewa lapangan, GOR, bayar sewa, dan bayar gym?
Kalau alasannya adalah olahraga, kenapa mereka ke kantor gak pakai sepeda aja? Bawa sepeda yang ada di rumah dan jalan deh ke kantornya!

Selain itu, sepeda sangat ramah lingkungan, karena gak punya emisi gas yang merugikan!


Therefore, viva bike 2 school!

Tuesday, April 10, 2007

Masakan Asoy

Senin (9/25) gw akhirnya berhasil memasak makanan yang semua orang rumah gw dan tetangga gw sampai berdecak kagum!!! yaitu Gulai Bihir / bihiy /bihir/ bihia / bihiay or,,, what else?

ya, yang jelas namanya itu lah......

dan kita lihat dari namanya aja udah keliatan masakan orang mana....

Biasa, karena bokap gw orang padang, jadi gw masak makanan padang dong!! dan masaknya gampang banget lagi....

Tapi, ini makanan juga yang gw salahkan atas membengkaknya perut gw !!!!
anyway, untuk loe yang lagi pergi merantau entah kemana, makanan ini patut dicoba...

resepnya adalah =


BIHIA

1 kg daging sandung lamur,,,, or daging sop apa ajalah...

bahan yang dialusin
25 butir bawang merah (pegel banget ngupas kulitnya, udah gitu perih bangeet)
8 butir bawang putih
jahe seukuran jempol loe....
cabe sesuka loe.. tapi gw saranin jangan sampe lebih dari 1/4 ounce.......

daun-daunan
daun jeruk 4 lembar, atau lebih banyak juga boleh, biar wangi....
daun sereh 1 batang ...
asam kandis (btw ini bukan daun khan?? tapi, ya,, tulis aja lah!!)


Cara memasak

1. potong2lah daging sop loe itu, sebesar yang loe mau.....

2. loe alusin tuh bumbu yang mesti dialusin, kalo bisa sih di uleg aja, tapi kalo loe gak mau, bisa juga diblender....

3. yaudah, loe masukin aja semua bumbu yang udah alus ama dagingnya dan daun-daunan dalam sebuah panci untuk direbus.......tambahkan 1 sendok teh garam......oya, ngerebusnya pake air yang penuh ya......

4. loe tungguin aja sampe dagingnya empuk dan rasanya mantap....tambahin garam kalo perlu..

trik-trik tambahan =
1. kalo loe ngerebusnya pake panci biasa, bisa sampe 4 jam lebih loe nunggu, mendingan loe semua pake "pressure Cooker" aja.
2. Garamnya sesuai selera loe ya, tapi gw saranin garamnya sekitar 2 sendok teh.
3. nah, kalo rasanya belum mantap jua, bisa aja loe tambahin bawang merahnya atau bawang putihnya..
4. tapi, kalo loe capek nambahin bawang , bisa juga loe pake cara belakang, yaitu dengan menambahkan racun yang bernama MSG!!!!


Good luck...

nb = makanan ini paling cocok untuk loe yang tinggal di pegunungan atau daerah-daerah dingin gitu!!!

Saturday, February 24, 2007

Finally, the first blog!

Akhirnya, setlah lama mencari tahu, bagaimana untuk mempunyai blog gw bisa juga punya blog sekarang. Senangnya diri gw!

Ok, saya tidak bisa berlama-lama, karena saya akan melakukan kegiatan ldks sekarang. LDKS yang sama sekali ga penting!

see yaa...

My Blogger Panel 3